Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Saturday, February 4, 2012

Allah Tuhan Kita, Aku, Kamu Sekalian

Kaum Pluralis mengatakan, semua agama menuju Tuhan yang satu. Padahal kelompok-kelompok Kristen berbeda penggunaan nama Tuhan mereka. Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam 'mengelirukan' pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, "semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu". Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting. Yang Satu itu dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One, dan sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis: "Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Segala agama."



Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat dengan: "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).

Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi tentang nama Tuhan mereka.

Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan 'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy."

Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).

Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh", sama dengan orang Islam; di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".

Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan/gelar untuk "Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.

Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan menggantinya dengan kata "Yahwe". Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.''

Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah".

Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi." (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3).

Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya, oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu menerjemahkan semua lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi "God". Dalam konsep Islam, Allah adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha Kuasa.

Maka, seharusnya, lafaz "Allah" dalam Al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord".

Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur'an -- menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God".

Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan "Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and Only". Kasus yang sama – penerjemahan nama Allah menjadi God – juga bisa dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M.

Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit pertama oleh Everyman tahun 1909). Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh menerjemahkan kata "President Bush" dengan "Presiden semak", atau nama Menlu AS "Rice" dengan "Menteri Nasi".

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga bersifat otentik dan final.

Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).

Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu." Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah – ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani—wa bi-arahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi "Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.

Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.

Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan (yang hak disembah) selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah".

Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama. Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:

"Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan." (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).

Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:

"... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (1999), hal. xix).

Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, "Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah."

Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka.

Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan "Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut "Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87).

Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata yang sama namun dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal. 190).

Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun – menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masing-masing secara bergantian.

Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.

"Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (QS 109).

QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda – meskipun namanya sama, yaitu Allah -- dan cara beribadah yang tidak sama pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis Agama. Wallahu a'lam.

---

Oleh: Adian Husaini, MA
www.hidayatullah.com

Monday, October 31, 2011

Saat Cinta Menyapa

Islam adalah agama fitrah, dan cinta adalah fitrah manusia yang ditanamkan oleh Allah sejak diciptakan, agar keturunan Nabi Adam tetap lestari dan tercipta cinta kasih di antara manusia sehingga hidup penuh dengan kerahmatan. Jatuh cinta kepada lawan jenis adalah hal normal. Islam tidak melarang seseorang untuk jatuh cinta, mencintai dan dicintai. Hanya saja, Islam menunjukkan wadah yang suci melalui pernikahan untuk menyalurkan hasrat cinta sepasang manusia agar dapat bercinta dengan bebas sekaligus mendapat ridha dan diberkahi oleh Allah SWT.

Anis Matta menyampaikan untuk melupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.

Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.

Bagaimana jika belum mampu menikah?

"Wahai kaum pemuda, siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka menikahlah,sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila diantara kamu belum sanggup untuk menikah, berpuasalah, karena sesungguhnya puasa tersebut sebagai penahannya"
[Al-Hadist]

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang,cukup cintai ia dalam diam. Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan terlarang. Kau tidak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karena diammu memuliakan kesucian diri dari hatimu. Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang dapat merusak izzah dan iffahmu..

Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya, karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yg telah Allah SWT pilihkan untukmu. Karena dalam diammu tersimpan kekuatan. Kekuatan harapan. Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata. Bukankah Allah tidak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padaNya. Dan jika memang “Cinta dalam Diammu” itu tidak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam..

Jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus “Cinta dalam Diammu” itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat. Biarkan “Cinta dalam Diammu” itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi Rahasia antara kau dengan Sang Pemilik Hatimu.

"... Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka..."
[Al-Baqarah:235]

Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah. Tapi jika memang kelemahan masih nyata di pelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah, berpuasalah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
[Ar-Ruum:21]

Cukup cintai ia dalam diam, bukan karena membenci hadirnya. Tapi menjaga kesuciannya bukan karena menghindari dunia, meraih surga-Nya bukan karena lemah untuk menghadapinya, tapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup.

Cukup cintai ia dari kejauhan, karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari cobaan. Karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan. Karena hadirmu mungkin saja akan membawa kenelangsaan hati-hati yang terjaga.

Cukup cintai ia dengan kesederhanaan. Memupuknya hanya akan menambah penderitaan, menumbuhkan harapan hanya akan mengundang kekecewaan, mengharapkan balasan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.

Maka cintailah ia dengan keikhlasan, karena tentu kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib diingini oleh hati, tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi? Hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikan. Serahkankan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya, biarkan ia yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.

"Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga."
[Umar bin Khattab ra.]

-----
NB: Teruntuk dirinya, maukah engkau simpan surga di telapak kakimu untuk anak-anakku kelak?

reference:

Friday, December 10, 2010

Stop Complaining, Girls!

Ketika terucap kata "WANITA", terbayanglah sosok mulia, mahluk terindah ciptaan Tuhan. Perhiasan dunia yang memperindah alam. Apa jadinya bila dunia ini tanpa wanita? (Halah lebay...) Namun, tak sedikit wanita yang mengeluh karena kedudukannya seolah-olah nomor 2 setelah laki-laki. Mereka mengeluh seakan-akan Allah tak adil dalam membagikan rahmat dan kemuliaan-Nya. Cobalah kita tengok kembali, betapa Allah telah memberikan karunianya pada wanita. Dialah Yang Maha Adil lagi Bijaksana.


"Wanita perlu taat kepada suami. Tapi tahukah, bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya...

Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada Lelaki2. Tapi tahukah bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila Lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk Isteri dan anak-anaknya.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak. Tapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala umat,malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini. Dan tahukah, jika ia mati karena melahirkan adalah Syahid dan Surga akan menantinya...Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 wanita, yaitu:
  1. Isterinya, 
  2. Ibunya, 
  3. Anak Perempuannya, dan
  4. Saudara Perempuannya.
Artinya: bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu:
  1. Suaminya,
  2. Ayahnya,
  3. Anak Lelakinya, dan 
  4. Saudara Lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu :
  1. Sholat 5 waktu, 
  2. Puasa di bulan Ramadhan,
  3. Taat kepada Suaminya, dan
  4. Menjaga Kehormatannya.
Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, suami yg soleh serta jujur terhadap istrnya,dan memberikan nafkah yang halal, serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Sebarkan tausyiah ini kepada saudaramu muslim yg lain, semoga pahala mengalir kepadamu juga....;)

---
Visit my blog: http://yugoananda.blogspot.com

Monday, August 30, 2010

Gara-gara USA - Part II

USA memang punya cerita. Kata-kata itu benar-benar bermakna di alam pikiranku. Tinggal di USA tak sekedar memberi cerita tentang pengalaman-pengalaman pertama, tetapi juga memiliki pengaruh dalam pola berpikir bahkan kehidupan spiritualku. Okelah, postingan kali ini, "Gara-gara USA part II", akan menyoroti tentang pengaruh tinggal di USA pada sisi spiritualku. Perlu diketahui, postingan ini berdasarkan pengalaman semata, jadi beda orang bisa beda cerita. Dan juga, postingan ini sama sekali tidak direkomendasikan untuk dijadikan acuan apapun.

Seperti yang sudah aku ceritakan pada "Aku bukanlah seorang "Ikhwan"", tinggal (kuliah) di USA bukan cuma soal senang-senang. Tapi aku juga merasakan tekanan mental dan batin. Dan yang jelas itu sama sekali tidak menyenangkan, seperti penderitaan.

Setelah mengetahui tanda-tanda kerapuhan imanku, aku tersadar bahwa aku dulu bisa seperti ini dan seperti itu karena kondisi sangatlah mendukung (agar tidak bingung, silahkan baca postingan Aku Bukanlah Seorang "Ikhwan"). Terang saja, kampusku di Indonesia dipenuhi aktivis dakwah. Tapi di USA? bisa shalat Tarawih sebulan penuh sudah alhamdulillah. Godaan dan berbagai macam pengaruh mulai bertiup menerpa. Apalagi, universitas-universitas di USA dipenuhi mahasiswa dan pengajar dari berbagai sudut dunia, dan mereka membawa pemikiran-pemikiran mereka sendiri yang tentunya satu sama lain sangat bisa untuk saling mempengaruhi. Degradasi iman benar-benar aku rasakan. Inilah yang membuat aku menjadi seorang yang tak lebih baik dari seorang munafik. Di Indonesia, dengan mudahnya aku berkata "Kalian harus begini, kalian jangan begitu...". Setelah beberapa bulan di USA, aku merasa kata-kataku mulai mencambuki diriku sendiri. Astaghfirullah...

Gara-gara hal itu aku kehilangan semangat untuk ber-"amar ma'ruf nahi munkar". Aku takut untuk mengajak "begini" ataupun mengingatkan seseorang untuk tidak "begitu". Di alam pikiranku, "Alaaah... Kayak kamu gak pernah buat dosa aja. Sudahkah kamu lupa dengan kejadian-kejadian yang lalu? Kau tak lebih baik dari seorang munafik!". Akhirnya yang aku lakukan ya "You do your things and I do my things. Your ways is your ways, and my ways is my ways". Pokoknya mikirin diri sendiri aja.


But, hey! Ada yang salah dalam cara berpikirku. Kalau begini terus, aku melalaikan salah satu kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu ber-"amar ma'ruf nahi munkar". Islam, sebagai Dien, mengajarkan umatnya untuk mengajak kebaikan dan mencegah dari keburukan. Gak bisa kita soleh soleh sendiri. Kalau mau soleh ya ajak-ajak temen :-D Lagian, untuk saling mengingatkan kita tidak perlu menjadi sempurna dulu. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Kalau menunggu manusia sempurna ya gak bakal ada "amar ma'ruf nahi munkar" donk. Justru karena manusia tidak sempurna makanya kita perlu saling mengingatkan dalam kebaikan. Dan jika kita memberikan nasihat pada seseorang ya harusnya kita juga melakukan apa yang kita nasihatkan itu. Apa gunanya melarang orang untuk bermabuk ria kalau kita masih suka mabuk?

Dalam Alquran dijelaskan:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."
[Q:S Ali Imraan:104]

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
[Q:S Ali Imraan:110]

Akupun mulai menata ulang pola berpikirku dan mencoba mengambil hikmah dari apa yang sudah kualami. Perlahan dan perlahan... Dan sebuah pemikiran muncul, "Jadilah bijaksana dan cobalah melihat dari berbagai sudut pandang, jangan terlalu pragmatis".

Hikmah dengalaman-pengalaman di USA telah mengukir caraku berpikir untuk sedikit lebih bijaksana dalam melihat suatu permasalahan, terutama masalah hukum Islam. Aku mulai untuk selalu mencoba melihat dalam banyak sudut pandang agar bisa memberikan putusan yang sebijak mungkin. Mungkin banyak orang yang "bisa begini dan menjauhi yang begitu" (stop thinking negatively! Hehehehe...) karena mereka memiliki peluang yang cukup. Tapi bagaimana bila kondisinya berubah amat jauh dari yang diperkirakan? Masihkah mereka "bisa begini dan menjauhi yang begitu?" Hal itu membuatku untuk selalu berpikir dari banyak sudut pandang. Aku tak mau jadi munafik lagi.

Okelah, mari kita ambil contoh dari pengalamanku setiba di Indonesia; Pagi-pagi buta adzan subuh melantun. Kulangkahkan kakiku ke masjid untuk menunaikan shalat shubuh berjamaah. Di jalan aku mendapati seorang pemulung sedang ber"dinas". Langsunglah pikiranku menjatuhkan judgement,

"Parah, adzan aja baru kedengeran. Udah dinas aja dia. Kapan dia shalat shubuhnya? Parah... parah... Udah miskin, kagak shalat pula. Mau pake apa dia ntar kalo menghadap Allah nanti? Ckckckck..."

"Hey! Sudah lupakah kamu dengan prinsipmu untuk menjadi orang bijak?" Oh iya! Aku mulai mencoba berpikir dari sudut pandang si pemulung. Benar saja, si pemulung belum tentu mengerti tentang fiqih dan hukum Islam, lagian belum tentu juga dia seorang Muslim.

"Seandainya kamu yang jadi pemulung tersebut, tak ada jaminan kamu akan berbuat hal yang lebih baik dari dia. Kamu tak pernah merasakan deritanya jadi fakir miskin, jadi jangan men-judge sesuka hatimu!" Pikiranku terus bergerak meringsek keegoisanku.

Kemudian jatuhlah aku pada suatu simpulan. Meninggalkan shalat memang bukan hal yang bisa dibenarkan. Tapi kita tak bisa mendakwahi seseorang (maksudnya orang kayak si pemulung itu) dengan judgement yang bikin pedas telinga. Rasakanlah bagaimana menjadi seorang pemulung. Lihatlah dari berbagai macam sudut pandang, insya Allah kita bisa mendapatkan metode dakwah yang paling bijaksana yang bisa kita peroleh. Jadi gak ada cerita niat dakwah malah yang ada jadi rusuh. Kan banyak tuh kasus begituan...

Yup benar saja mengapa Umar Ibn Khattab sering meraba kehidupan masyarakat kelas bawah. Biarpun beliau seorang khalifah, pemimpin negara, sering sekali beliau tampak kere layaknya orang melarat. That's why beliau menjadi tokoh pemimpin yang mengagumkan. Beliau bisa merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kebijakannya memang bijaksana. Subhanallah...



Tapi sepenuhnya aku sadar, tetap saja ada kesilapan yang aku lakukan. Kadang-kadang aku men-judge seseorang hanya dari satu sudut pandang. Semoga Allah mengampuni hamba-Nya yang lemah ini.

Nah, ada pula kasus yang lagi nge-trend yang bisa dijadikan pembaca sekalian sebagai studi kasus. Pasti sudah pada tahu donk berita tentang Ariel Peterpan - Luna Maya dan juga sekuelnya Ariel Peterpan - Cut Tari. Apa komentar pembaca sekalian dengan kasus tersebut? Ingat, menjadi bijaksana tidaklah sama dengan menjadi permisif dan tidak tegas.

Wallahu'alam, semoga bermanfaat...

Thursday, June 18, 2009

Questions and Answers About Islam

When I think about Islam, I always ask a question to my self. "Do West (especially USA) really know about Islam?". Why I ask that? Because West seems paranoid against Islam. They often connect muslims and terrorism. They are afraid of Islam. If they realy knew about Islam they shouldn't be afraid of muslims. So, I just tried to search about Islam in USA in google.com. And I found a good article about that. This article is about question and answer about what Islam is. I hope with this post, more and more people know and understand what Islam is.

Q: What is Islam?

A: Muslims believe in one God, He is Allah, and in the Day of Judgment and individual accountability for actions. Muslims believe in a chain of prophets beginning with Adam and including Noah (Nuh), Abraham (Ibrahim), Ishmael (Ismail), Issac (Ishaq), Jacob (Yaqub), Joseph (Yusuf), Job (Ayoub/Ayub), Moses (Musa), David (Daud), Solomon (Sulaiman) , Jesus (Isa), etc. God's message was reaffirmed and finalized by the Prophet Muhammad. Islam is a religion of peace, mercy and forgiveness. Muslims pray in a mosque (masjid). Muslims prayer is called Shalat. Shalat have to be performed in particular ways according to Sharia.

Q: What is the Koran?

A: The Koran, or Al Qur'an, is the Muslim holy book, like the Bible is to Christianity. It is the record of the exact words revealed by God to the Prophet Muhammad. It was memorized by Muhammad and then dictated to his companions.

Q: What does 'Islam' mean?

A: The Arabic word "Islam" means "submission," and it derives from a word meaning "peace." In a religious context it means complete submission to the will of God. "Allah" is the name for God, which is used by Muslims and Christians alike.

Q: What are the 'Five Pillars' of Islam?

They are the framework for Muslim life:
  • The declaration of faith: "There is no deity but Allah, and Muhammad is the messenger of Allah."
  • Prayer (Shalat): Muslims perform five obligatory shalat each day. Islamic prayers are a direct link between the worshiper and God. Islam has no hierarchical authority or priesthood.
  • Zakat: One of the most important principles of Islam is that all things belong to God and that wealth is held in trust by human beings. Zakat, or charitable giving, "purifies" wealth by setting aside a portion for those in need.
  • Fasting: Every year in the Islamic lunar month of Ramadan, Muslims fast from sunrise to sunset. The fast is another method of self-purification.
  • Pilgrimage: A pilgrimage to Mecca, Saudi Arabia, or Hajj as it is is called in Arabic, is an obligation for those who are physically and financially able to make the journey.

Q: Who are the Muslims?

A: People who follow the Islamic faith come from all over the world. No more than 20% of Muslims live in the Arabic-speaking world. The country with the largest Muslim population is Indonesia.

Q: What about the American Muslim community?

A: An estimated 7 million Muslims live in the USA. They are made up of people from a wide variety of ethnic backgrounds and national origins. Islam is one of the fastest-growing religions in the United States and around the world.

Q: What is the role of women in Islam?

A: Under Islamic law, women have always had the right to own property, receive an education and otherwise take part in community life. Men and women are to be respected equally. The Islamic rules for modest dress apply to women and men equally.

Q: Why do Muslim women cover their hair?

A: Islam teaches modesty for women and men. Women are required to cover their bodies so that their figure is not revealed and only their faces and hands are shown. The head scarf is called a hijab or chador. The long, robelike garment is called an abayah, jilbab or chador. This requirement is designed to protect women and give them respect. The dress of Muslim women is similar to that of Christian nuns, who also cover their bodies and hair. Muslim women are not required to cover their faces as is done in some Middle Eastern countries.

Q: Some Arab men wear a checked garment on their heads. What is that?

A: It is called a kafiyyeh, and it is traditional, not religious. Wearing the kafiyyeh is similar to an African-American wearing traditional African attire or an Indian wearing a sari. The kafiyyeh shows identity and pride in one's culture.

Q: What is jihad?

A: Jihad does not mean "holy war." Literally, jihad in Arabic means to strive, struggle and exert effort. It is a central and broad Islamic concept that includes struggle against evil inclinations within oneself, struggle to improve the quality of life in society, struggle in the battlefield for self-defense or fighting against tyranny or oppression.

Q: What does Islam say about Christianity?

A: Islam teaches that Christians and Muslims are both "people of the book." By that it means that the two religions share the same basic beliefs articulated through the Bible and the Koran. The main difference between Christians and Muslims is that Muslims do not believe that Jesus (Isa) was the son of God. Muslims believe that Jesus (Isa) was a prophet who was granted special powers by God to show people the power of God.

Q: What does Islam say about Judaism?

A: Islam teaches that Jews and Muslims are both "people of the book." By that it means that the two religions share the same basic beliefs articulated through the Torah and the Koran. The main difference between Jews and Muslims is that Jews do not believe in the prophets after the Jewish prophets, including Muhammad and his teachings. Muslims, on the other hand, believe in all the prophets including Moses, Ibraham, Jackob, Ishmael, Issac and Jesus.

Q: How does Islam view terrorism?

A: Islam does not support terrorism under any circumstances. Terrorism goes against every principle in Islam. If a Muslim engages in terrorism, he is not following Islam. He may be wrongly using the name of Islam for political or financial gain.

Q: Does Islam tolerate other beliefs?

A: Yes. It is one function of Islamic law to protect the privileged status of minorities. Islamic law also permits non-Muslims to set up their own courts, which implement family laws drawn up by the minorities themselves.

Q: What is an appropriate way to greet an Arab-American (or other American Muslims)?

A: This is not difficult or tricky. Remember that most Arab-Americans grew up in the USA and do not require special greetings. Be yourself, and let them be themselves. If they are practicing Muslims or recent immigrants, watch for cues. A smile, a nod and a word of greeting (Salaam) are appropriate in most situations. Some Muslims feel it is inappropriate for unrelated men and women to shake hands. Wait until the other person extends his or her hand before you extend your own.


Source: USATODAY.com

Sunday, November 2, 2008

Science dalam Al-Quran - Embriologi

"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"." [Q:S Al-Ahqaaf:4]
Bagi pengguna komputer, silahkan langsung menuju blog aslinya saja. Biar enak mbacanya. Klik di sini.

Itulah tantangan Allah Azza wa Jalla terhadap orang-orang yang mengingkariNya. Sungguh Allah Sang Maha Pencipta, Dia Maha Teliti atas apa yang diciptakanNya.

Mari kita lihat bagaimana Allah menerangkan ayat-ayatNya tentang Embriologi

Coba kita lihat Surat Al-Mu'minuun 23 ayat 12-14 (maaf nih pake latin, susah euy ngetik huruf arab)

(12.) wa laqad kholaqnal insaana min sulaalatin min thiin
(13.) tsumma ja'alnaahu nuthfatan fii qaraarin makiin
(14.) tsumma kholaqnan nuthfata 'alaqatan fakholaqnal 'alaqata mudhghotan fakholaqnal mudhghota 'idzaaman fakasawnal 'idzaama lakhman tsumma ansya'naahu kholqan aakhor. fatabaarakallahu akhsanul khooliqiin

Terjemahan Departemen Agama:
(12.) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
(13.) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
(14.) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Terjemahan Abdullah Yusuf Ali:
(12.) Man We did create from a quintessence (of clay);
(13.) Then We placed him as (a drop of) sperm in a place of rest, firmly fixed;
(14.) Then We made the sperm into a clot of congealed blood; then of that clot We made a (foetus) lump; then we made out of that lump bones and clothed the bones with flesh; then we developed out of it another creature. So blessed be Allah, the best to create!

Pada ayat 12 terdapat sulaalatin min thiin, sulaalah berarti "bagian terbaik dari yang ada", sedangkan thiin adalah salah satu jenis tanah. Dalam Bahasa Arab "tanah" disebut dalam berbagai kata, sesuai dengan jenis tanahnya.Dalam kata "tanah" tersebut, thiin juga bisa mengacu pada "manusia". Mari kita lihat pada surat yang lain, Surat As-Sajdah (Surat ke-32) ayat 7:

(7.) alladzii akhsana kulla syay'in kholaqahuu wa bada'a kholqal insaani min thiin

Terjemahan Departemen Agama:
(7.) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Jadi, manusia memang disebut dari tanah (thiin), sehingga makna sulaalathin min thiin bisa diacu sebagai sari pati tanah/manusia. Bila dalam science, sari pati tersebut adalah cairan yang dikeluarkan oleh kaum pria. Cairan ini biasa kita sebut semen, yang mana didalamnya terkandung sel-sel sperma. Semen ini tentunya mengandung berbagai macam senyawa lainnya, dan cairan ini dihasilkan dari nutrisi yang dimakan. Dan yang dimakan itu tentunya berasal dari mineral-mineral tanah.

Kembali ke Surat Al-Mu'minuun. Ayat 13 menerangkan bahwa manusia diciptakan dari nuthfah,yang kemudian ditempatkan di qaraarin makiin (suatu tempat terlindung --> rahim). Nuthfah sendiri memiliki arti "jumlah yang sangat kecil dari cairan". "Jumlah yang sangat kecil dari cairan"? Tentu kawan sekalian sudah mengetahui bagaimana proses pembuahan. Ya, bertemunya inti sel sperma dengan inti sel telur. Normalnya, pembuahan terjadi antara 1 sel sperma dengan satu sel telur. Walaupun mungkin saja sel telur dibuahi oleh lebih dari satu sperma, tapi itu menjadi tidak normal. Sungguhpun demikian, maka sangatlah benar bila manusia itu tercipta dari nuthfah, bagian yang kecil. Bukankah sperma dan sel telur itu sangat kecil? Mungkin zaman sekarang, hal itu bukanlah hal istimewa. Kita memiliki mikroskop yang canggih untuk mengamati benda sekecil sperma dan sel telur. Tapi pada zaman 14 abad yang lalu? Mustahil orang mengetahui manusia tercipta dari sesuatu yang sangat kecil. Nampak oleh mata saja tidak.

pada ayat 14, tampak prosesnya semakin detil. Jika kawan sekalian perhatikan kembali ayat 14 diatas, kawan sekalian akan mendapatkan 5 tahapan lanjutan. yaitu 'alaqah; mudhghah; idzamaa; lakhman; makhluk yang berbentuk (sempurna). Mari kita kaji sama-sama.

'Alaqah

Dalam bahasa arab 'alaqah memiliki 3 pengertian yaitu:
1. Suatu yang melekat
2. Sesuatu yang mirip lintah
3. Segumpal darah

Kita bisa uji salah satu pengertian di atas. Biar lebih mantap kita coba saja ketiga-tiganya.

Sesaat setelah dibuahi sel telur (bersama dengan sperma yang membuahi tentunya) akan menuju dinding rahim dan menempel di sana. Tentu kawan sekalian sudah mengetahui pelajaran macam ini waktu SMA (yang mengambil IPA). Point (1) cocok...

Mari kawan sekalian perhatikan ilustrasi buatan Professor Keith Moore seorang terkemuka dibidang Embriologi di Universitas Toronto.


Perhatikan! Sangat mirip lintah (leech) kan? Bukan hanya rupanya yang mirip tetapi fungsinya juga, menghisap darah ibunya. Point (2) cocok

Segumpal darah? Ya, sampai minggu ketiga tidak terjadi peredaran darah pada embrio.Embrio ini hanya melakukan penghisapan darah dari ibunya. Darah disedot dan mengumpul pada suatu tempat di dalam embrio.Saat inilah embrio berbentuk segumpal darah. Hal ini bisa diamati pada proses Aborsi. Point (3) cocok. Anda bisa melihat dan mencocokkan dengan gaambar berikut (banyak terdapat pada buku teks).




Mudhghah

Mudhghah memiliki arti "sesuatu/bongkahan/gumpalan yang digigit dengan gigi".Kawan sekalian mungkin bisa membayangkan bentuh permen karet yang dikunyah dan digit. Agar lebih mudah, kawan sekalian bisa melihat dan menbandingkan fase mudhghah dengan permen karet yang digigit pada gambar berikut ini.

ini adalah foto dari embrio asli


dan yang ini sketsa yang dibandingkan dengan permen karet yang digigit

Perhatikanlah kawan sekalian, bukankah sangat mirip? Perhatikan pula bagian permen karet yang digigit, menyerupai bagian belakang embrio (somites). Subhanallah, Maha Suci Allah, Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui dengan detil tiap ciptaannya.

'Idzamaa

Arti 'idzamaa adalah tulang. Pada tahapan ini sempat dipeributkan pada waktu lalu. Ada yang beranggapan bahwasanya otot dan tulang tumbuh bersamaan. Tak ada keberatan jika pada tahapan awal (precursor) otot dan tulang rawan tumbuh bersamaan. Namun, hal ini terjadi pada sekitar hari ke 25-40, dimana Al-Qur'am mengacu pada tahapan Mudhghah. Perlu diketahui, keduanya tidak mengalami perkembangan apapun. Barulah pada sekitar minggu ke 7 embrio membentuk tulang dan memberikan rupa manusia pada embrio. Embriologi modern menyatakan tulang mulai terbentuk pada sekitar hari ke 42 yang memberikan tampilan berkerangka. Walaupun saat itu tulang sudah terbentuk, otot belum terbentuk. Baru antara minggu ke 7-8 otot mulai terbentuk. Jadi, sekali lagi Al-Quran sama sekali tidak salah dan seirama dengan ilmu pengetahuan. Subhanallah.

Lakhman

Yang berarti daging. Tentu otot telah terbentuk. Saya pikir tidak perlu dijelaskan panjang lebar pada fase ini.

Makhluk yang Berbentuk

Jabang bayi pun telah terbentuk, tinggal menunggu waktu kelahirannya saja.



Professor Keith Moore mengatakan bahwa… ‘Tahapan – yang digambarkan embryology modern… 1,2,3,4,5, sangat membingungkan, Tahapan yang diajukan oleh Qur’an mengenai embryology berdasarkan penampilan, dan bentuknya, jauh lebih baik. Karena lebih sederhana untuk dimengerti orang.

Subhanallah, betapa mulianya Al-Quran ini. Mustahil seorang Muhammad mereka-reka kitab Al-Quran pada 14 abad yg lalu. Inilah kitab yang haq.

Mari kita lihat lagi Surat Al-Ahqaaf ayat 4:


"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur'an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"."


Sebagai penutup mari kita lihat Surat Al-Baqarah ayat 1-5


"Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. "


// refference: myquran.org
// syukron buat akh Yangga, yang sudah menshare ilmunya. Semoga bisa bermanfaat... Amiin...
// Bagi yang mau kasih kritik, pendapat, atau share ilmu, silahkan tinggalkan comment, tapi jangan spam y.

Saturday, November 1, 2008

Terbelahkah Rembulan Itu?

"Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus"."

[Q:S Al-Qamar:1-2]

'

Aku pun bertanya, "Terbelahkah rembulan itu?"


Sebagai muslim, tentunya kita (saya dan pembaca muslim sekalian) wajib meyakini bahwasanya membelah bulan adalah salah satu mukjizat yang dianugerahkan Allah pada Rasulullah SAW. Dan menjadi suatu berita yang membahagiakan bila ternyata kejadian ini terbukti berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini seharusnya membuat iman kita bertambah teguh kepada kepada kebenaran islam dan Al-Quran yang absolut...

Sebenarnya wacana (atau fakta?) ini sudah beredar 2 tahun lalu (atau lebih?). Tapi mungkin tak apalah bila saya ikut-ikutan memposting tentang bahasan ini. Mungkin kawan sekalian telah mengetahui tentang artikel-artikel tentang temu wicara antara Dr. Zaghlul Al-Najjar* dengan seorang ahli geologi kenamaan, dan tambahan dialog dengan Daud Musa Pitkhok*. Kalau kawan sekalian belum membaca tentang artikel tersebut, kawan sekalian bisa menanyakannya pada "Simbah Google" yang serba tahu (yang, walaupun, kadang-kadang sotoy he...3x). Lalu, apakah artikel-artikel tersebut benar-benar membawa nilai-nilai kebenaran?

Setelah membaca artikel tersebut, saya merasa ada yang sedikit aneh. Saya coba terangkan satu persatu...
  1. Daud Musa Pitkhok adalah salah satu audiences dalam temu wicara tersebut. Beliau menjadi tokoh utama disini sebenarnya, karena beliau yang menambahkan science dalam bukti kebenaran bulan terbelah. Beliau menceritkan pengalamannya masuk islam dan acara yang beliau tonton di BBC tentang wawancara dengan 3 orang pakar ruang angkasa yang menceritakan bahwa benar adanya jika bulan pernah terbelah, karena memang menurut mereka telah ditemukan bukti-bukti terbelahnya bulan. Dari sini saya melahat adanya jarak yang jauh mengenai tautan peristiwa tersebut. Mulai dari seorang audience yang angkat bicara kemudian bercerita tentang pengalamannya yang mana pengalamannya didapat dari menonton televisi. Hal ini menjadi susah dalam pelacakan kebenarannya. Mungkin hal ini menjadi hal yang sah-sah saja bagi kawan sekalian. Tapi terasa aneh menurut pandangan saya.
  2. Kalau temu wicara ini pernah terjadi, apalagi terjadinya kan di luar negeri, seharusnya ada yang mendokementasikannya pada situs/blog luar negeri (setidaknya dalam bentuk postingan blog) yang tentunya dalam bahasa Inggris. Setelah melakukan pencarian pada search engine dengan keyword nama 2 tokoh tersebut, yang saya dapatkan hanyalah blog-blog berbahasa Indonesia yang sama. Berbeda situs tapi konten yang benar-benar mirip. Sebenarnya temu wicara ini pernah terjadi atau tidak? Saya sempat mendapatkan rujukan dari situs lain tentang 2 tokoh tersebut. Mungkin 2 tokoh tersebut benar-benar eksis, tapi tetap saja saya belum menemukan kaitan 2 tokoh itu dalam acara temu wicara tersebut. Ada pula yang menunjukan referensi ke Youtube, tapi sayangnya file-nya sudah tidak available lagi (atau memang sebenarnya tidak ada?)
  3. Kalau memang bahasan dalam temu wicara terjadi, logikanya hal itu pernah menjadi bahasan ilmiah yang besar, apalagi melibatkan BBC dan 3 pakar ruang angkasa. Oleh karena itu, seharusnya ada situs yang menuliskan tentang hal itu dalam gaya bahasa yang berbeda-beda, bukannya sama "plek" seperti pada kasus ini. Contohnya bila kawan sekalian mengetikkan keyword "David Beckham"pasti akan keluar berbagai result yang relevan dengan keyword tersebut dan dalam ulasan yang berbeda-beda. Bukannya sama "plek", seperti copy-paste...
  4. Beberapa situs/blog menambahkan gambar permukaan bulan seperti berikut:
    Sebenarnya gambar apakah itu? Tampaknya dalam artikel tersebut ingin menjelaskan bahwasannya garis melintang tersebut adalah bukti bahwa bulan pernah terbelah. Benarkah demikian? Gambar itu bisa kawan sekalian dapatkan di situs resmi NASA ini. Setahu saya itu adalah "Lunar Rille". apa itu Lunar Rille? Mungkin kawan sekalian bisa mencari penjelasan dari situs resmi NASA ini. Dan Lunar Rille banyak terdapat pada tubuh bulan itu sendiri. Bukannya hanya satu dan melintang seakan-akan menjadi tanda terbelahnya bulan. Lagipula NASA tidak pernah menyatakan bahwa bulan pernah terbelah (atau tidak mau mengakui? *_* Wallahu'alam). Intinya foto tersebut tampak terlalu dipaksakan untuk menjadi bukti bulan terbelah. Namun demikian. apabila memang ada foto yang menjadi bukti tak terbantahkan, tentu saya sangat senang. Tapi buat apa kalau ingin membuktikan kebenaran Al-Quran dengan menyebarkan kebohongan?

Begitulah, saya hanya takut kalau berita ini hanyalah hoax belaka yang beredar di Indonesia. Dan saya tidak mau ikut-ikutan dalam penyebaran suatu kebohongan. Sekedar saran saja, jangan memforward sesuatu yang belum pasti kebenarannya.

Sekali lagi saya tekankan, terbelahnya bulan adalah bagian dari keimanan. Iman itu dimantapkan dalam hati. Ada bagian dimana otak dan ilmu pengetahuan tak mampu menjangkaunya. Di situlah iman menjadi tumpuannya. Dan apakah Allah Azza Wajalla telah meninggalkan bukti disana? Wallahu'alam. Saya tetap beriman kepada Allah dan Rasulnya. Sangat mudah bagi Allah untuk membelah bulan tanpa mendatangkan kemudharatan bagi semesta dan menyatukannya kembali tanpa meninggalkan bekas.

Wallahu'alam...



// * Link tersebut hasil pencarian menggunkan google pada mozilla firefox 3.0, mungkin bisa dicoba pada internet browser yang lain (saya belum pernah coba c....).
// Bagi kawan sekalian yang ingin mengkritik, berpendapat, atau berbagi ilmu silahkan tinggalkan comment. If you comment, I'll follow

Friday, September 5, 2008

Marhabban Yaa Syahru Ramadhan - Healthy Ramadhan

"O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that ye may (learn) self-restraint,-. (Fasting) for a fixed number of days; but if any of you is ill, or on a journey, the prescribed number (Should be made up) from days later. For those who can do it (With hardship), is a ransom, the feeding of one that is indigent. But he that will give more, of his own free will,- it is better for him. And it is better for you that ye fast, if ye only knew. Ramadhan is the (month) in which was sent down the Qur'an, as a guide to mankind, also clear (Signs) for guidance and judgment (Between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spend it in fasting, but if any one is ill, or on a journey, the prescribed period (Should be made up) by days later. Allah intends every facility for you; He does not want to put to difficulties. (He wants you) to complete the prescribed period, and to glorify Him in that He has guided you; and perchance ye shall be grateful." [Q:S Al-Baqarah:183-185]

I want to say Happy Ramadhan for all moslem around the world. Have a good shaum (fasting). Ramadhan is a "Syahru Al Barakah". So, have a good prayer and get His heaven! Hmm... I think I'm not too late to say this, eh? I'm so sory if I can't update this blog ontime. I've been being focus with my "ibadah" (prayer) at Ramadhan of this year.

Healthy Ramadhan?


This is Based on by Dr. Farouk Haffejee's article on SOME HEALTH GUIDELINES FOR RAMADHAAN with additional information

This article provides useful advice on how to avoid some common problems encountered in Ramadan. If followed, it would enable one to fast comfortably and enjoy fully the spiritual benefits of Ramadan.

During the holy month of Ramadan, our diet should not differ very much from our normal diet and should be as simple as possible. The diet should be such that we maintain our normal weight, neither losing nor gaining.

In view of the long hours of fasting, we should consume slow digesting foods including fiber containing-foods rather than fast-digesting foods. Slow digesting foods last up to 8 hours, while fast-digesting foods last for only 3 to 4 hours.

Slow-digesting foods are foods that contain grains and seeds like barley, wheat, oats, millet, semolina, beans, lentils, whole meal flour, unpolished rice, etc. (called complex carbohydrates).

· Fast-burning foods are foods that contain sugar, white flour, etc. (called refined carbohydrates).

· Fibre-containing foods are bran-containing foods, whole wheat, grains and seeds, vegetables like green beans, peas, sem (papry), marrow, mealies, spinach, and other herbs like methie, the leaves of beetroot (iron-rich), fruit with skin, dried fruit especially dried apricots, figs and prunes, almonds, etc.

The foods eaten should be well-balanced, containing foods from each food group, i.e. fruits, vegetables, meat/chicken/fish, bread/cereals and dairy products. Fried foods are unhealthy and should be limited. They cause indigestion, heart-burn, and weight problems.
AVOID
Fried and fatty foods.
- Foods containing too much sugar.
- Over-eating especially at suhoor.
- Too much tea at suhoor. Tea makes you pass more urine taking with it valuable mineral salts that your body would need during the day and excessive water loss from the body.

Avoid too mush salty and spices food (especially spicy pickles like Achar.

Complex carbohydrates at suhoor so that the food lasts longer making you less hungry.
- Haleem is an excellent source of protein and is a slow-burning food.
- Dates are excellent source of sugar, fibre, carbohydrates, potassium and magnesium.
- Almonds are rich in protein and fibre with less fat.
- Bananas are a good source of potassium, magnesium and carbohydrates.

DRINK
As much water or fruit juices as possible between iftaar and bedtime so that your body may adjust fluid levels in time.

CONSTIPATION
Constipation can cause piles (hemorrhoids), fissures (painful cracks in anal canal) and indigestion with a bloated feeling.
Causes: Too much refined foods, too little water and not enough fiber in the diet.

Remedy: Avoid excessive refined foods, increase water intake, use bran in baking, brown flour when making roti (chapattis).

INDIGESTION AND WIND
Causes: Over-eating. Too much fried and fatty foods, spicy foods, and foods that produce wind e.g. eggs, cabbage, lentils, carbonated drinks like Cola also produce gas.
Remedy: Do not over-eat, drink fruit juices or better still drink water. Avoid fried foods, add ajmor to wind-producing foods.

LETHARGY ('low blood pressure')
Excessive sweating, weakness, tiredness, lack of energy, dizziness, especially on getting up from sitting position, pale appearance and feeling faint are symptoms associated with "low blood pressure". This tends to occur towards the afternoon.
Causes: Too little fluid intake, decreased salt intake.
Remedy: Keep cool, increase fluid and salt intake.
Caution: Low blood pressure should be confirmed by taking a blood pressure reading when symptoms are present. Persons with high blood pressure may need their medication adjusted during Ramadhan. They should consult their doctor.

HEADACHE
Causes: Caffeine and tobacco-withdrawal, doing too much in one day, lack of sleep, hunger usually occur as the day goes by and worsens at the end of the day. When associated with "low blood pressure", the headache can be quite severe and can also cause nausea before Iftaar.
Remedy: Cut down caffeine and tobacco slowly starting a week or two before Ramadhan. Herbal and caffeine-free teas may be substituted. Reorganize your schedule during the Ramadan so as to have adequate sleep.

LOW BLOOD SUGAR
Weakness, dizziness, tiredness, poor concentration, perspiring easily, feeling shaky (tremor), unable to perform physical activities, headache, palpitations are symptoms of low blood sugar.
Causes in non-diabetics: Having too much sugar i.e. refined carbohydrates especially at suhoor . The body produces too much insulin causing the blood glucose to drop.
Remedy: Eat something at and limit sugar-containing foods and drinks.
Caution: Diabetics may need to adjust their medication in Ramadan, consult your doctor.

MUSCLE CRAMPS
Causes: Inadequate intake of calcium, magnesium and potassium foods.
Remedy: Eat foods rich in the above minerals e.g. vegetables, fruit, dairy products, meat and dates.
Caution: Those on high blood pressure medication and with kidney stone problems should consult their doctor.

PEPTIC ULCERS, HEART BURN, GASTRITIS AND HIATUS HERNIA
Increased acid levels in the empty stomach in Ramadhan aggravate the above conditions. It presents as a burning feeling in the stomach area under the ribs and can extend up to the throat. Spicy foods, coffee, and Cola drinks worsen these conditions. Medications are available to control acid levels in the stomach. People with proven peptic ulcers and hiatus hernia should consult their doctor well before Ramadhan.

KIDNEY STONES
For those who have kidney problems it is essential to drink extra liquids so as to prevent stone formation.

JOINT PAINS
Those who are elderly or suffer from arthritis or are overweight should Exercise the lower limbs before Ramadhan so that they can be prepared for the long Tarawi prayers and lose weight. Also they should learn the correct sitting position in the Tashahud of the final rakahs(please look prayer section of www.shariahway.com). Not sitting in the correct way can for some brothers and sisters especially those who are overweight or suffer from arthritis, cartilage problems, or are top heavy due to say training mostly the upper body can struggle to sit for the final tashahud in the same manner of say the second tashahud (like in secound rakah of dhuhr,Asr,Magrib, Isha Salah). So the solution is simple sit properly.

Also being physically fit allows greater fulfilment of ones prayers.

One should not over eat at iftaar (when breaking the fast). Try to eat just enough to get by. But not too little that you feel faint. Otherwise you will find it difficult to concentrate in the prayer due to feeling bloated and also feel very sleepy.

If you smoke then you should give it up as it is Haram.

Also as they say the term a MAN (OR WOMEN )HUNGRY IS A MAN WHO IS ANGRY.

Hunger and especially craving for cigarettes can make both men and women very short tempered. Therefore one should constantly remember purpose of fasting is to attain taqwa. Thus one should not loose their temper and become sinful. Having Patience is one of the qualities of a pious person. Thus when we can be patient at times of cravings for food etc then this will help us get closer to our goal of attaining Taqwa.

Also another warning is that there are many vitamins and mineral supplements on market. Recently it has been found that some of these vitamins can be very dangerous for health. For instance for many years students have be taught that vitamins supplements can improve our health and so on. Well it was found that rather vitamin A supplements rather than benefiting ones health were actually detrimental to ones health. In studies in Sweden it was found although the population was very fit and had a calcium rich diet they had a unusually high rate of osteoporosis cases compared with other European countries. After investigation the case of this was due to increased consumption Vitamin A it was found long term consumption 1,5mg of vitamin A per day decreased bone density by 10 %. And this can even be achieved by diet heavy in products with vitamin A alone and one vitamin A pill will go well above that level.

Vitamin A in the form of retinal causes liver problems as excessive amounts cannot be excreted so easily and thus accumulates in the liver. It was believed that vitamin A may help reduced lung cancer in smokers so a mass clinical study was undertaken in USA. The study was halted immediately after it was found that those patients who were given vitamin A in the form of betacarotine had a massive 28 percent increase in cancer. And the same had happened earlier in similar studies in another country.

Therefore if you need supplements in Ramadhan or outside Ramadhan consult your doctor.

sources: www.muslimconverts.com and www.shariahway.com