Showing posts with label Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Show all posts
Showing posts with label Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Show all posts

Tuesday, April 14, 2009

Orang Gila Nambah?

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Masih ingat dengan seorang calon gagal bupati di daerah jawa timur? Karena gagal, hartanya ludes, bisnis bangkrut, dan istri minta cerai akhirnya dia menjadi depresi. Dan bisa kita lihat di tayangan televisi, dia berjalan-jalan hanya menggunakan celana dalam saja. Waduh, porno aksi ieu teh... Nah, keknya nih, pasca pemilu ini, angka orang depresi makin naik saja. Bahkan beberapa RSJ telah menyiapkan kamar-kamar tambahan untuk caleg gagal. Ada yang VIP juga loh...

Bayangkan saja, sebanyak 11.215 orang memperebutkan 560 kursi DPR dan 1.109 orang bersaing mendapatkan 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah. Selain itu, sekitar 112 ribu orang bertarung untuk mendapat 1.998 kursi di DPRD provinsi dan 1,5 juta orang bersaing merebut 15.750 kursi DPRD kabupaten/kota. Sebuah jumlah yang luar biasa banyaknya. Nah, bisa dilihat bagaiman persaingan antar caleg ini. Termasuk masalah dana. Maka tak heran bila prediksi angka depresi para caleg gagal bakal meningkat

Kalo ada yang nonton Bukan Empat Mata kemaren, dikatakan sebuah RSJ sudah memiliki 5 pasien rawat jalan dari caleg. Wew, bener-bener...

Dampak kegagalan caleg tidak hanya pada resiko depresi, tapi juga berbuat hal yang memalukan seolah-olah tak memiliki harga diri, seperti meminta kembali apa yang sudah para caleg berikan ke warga. Seperti di daerah Batang dan Ternate, seorang caleg mengambil kembali televisi yang dia sumbangkan ke warga. Ada juga yang mendatangi rumah-rumah dan berusaha meminta kembali uang yang diberikan ke warga seperti kejadian di daerah Agara, NAD. Sungguh memalukan dan memilukan.

Menjadi caleg (sekali lagi baru jadi caleg) memang butuh biaya besar. Apalagi untuk berkampanye ria. Pasang foto, baliho, dan poster-poster di pinggir-pinggir jalan. Maka pantas saja kegagalan yang berbuntut hutang, rugi besar, dan malu ini berakibat pada depresi berat. Atau, karena merasa rugi besar, dan ingin menutup hutangnya, mereka berusaha menarik kembali apa yang sudah diberikan ke warga. Hmmm, kekecewaan berakibat panjang...

Ya okelah, kecewa adalah suatu perasaan natural pada diri manusia. Namun, kembali juga pada individu masing-masing bagaimana mereka menangani kekecewaan mereka. Apakah kemudian melupakan dan segera berintrospeksi atau tenggelam dalam kekecewaan tersebut, itu berbeda pada tipa individu. Tapi masalahnya, ketika kita melihat beberapa caleg gagal kemudian depresi bahkan menjadi pasien RSJ, maka langsung diragukan niat awal si caleg ini. Lha koq depresi berat? Wong namanya nyalon pasti ada konsekuensinya. Dan caleg harus tahu itu. Kalo niatnya lillahita'ala, ibadah, dan dakwah, insya Allah yang namanya depresi berat bisa terhindarkan. Lha ini, sampai depresi berat berarti kan ada niatan yang gak baik. Misalnya aja, pengin jadi Anggota Dewan biar kesejahteraan diri dan keluarganya naik. Waduh, jadi anggota dewan itu bukan untuk mensejahterakan diri atau keluarga, tapi masyarakat. Nah, kalo hal ini sudah disadari berarti si caleg harusnya tau, terpilih atau tidak terpilih tetap jadi beban. Kalau terpilih berarti dia harus berjuang mengutamakan kesejahteraan masyarakat di atas kesejahteraan dirinya atau keluarganya (dan itu bukanlah hal yang mudah dan tak beresiko), kalau kalah berarti dia harus siap kecewa sebagian hartanya lenyap.

Trus, kalau tau biaya kampanye itu sangat besar, mbok ya yang punya keterbatasan modal gak usah ikut-ikut (kecuali karena masyarakatnya sangat suka, mereka ridho mensupport si caleg ini). Pake ngutang segala lagi. Kalo begini, Pileg menjadi seperti ajang bisnis saja. Mungkin mereka berpikir:

"Yah, gak papa lah ngutang dulu, toh ntar kalo jadi kan bisa nutup utang".

Wadaw, kalau begitu maka jelas saja, jadi caleg bukan memperjuangkan rakyat, tapi memperjuangkan perut sendiri. Idiiih... na'udzubillah...

Gagal, kemudian masuk RSJ sih masih mending. Lha, yang tiba-tiba meminta kembali apa yang sudah diberikan ke warga itu lebih parah. Pake acara door to door segala lagi.

"Maaf, pak/bu. Berhubung saya kalah, 50.000 yang kemaren saya kasih tolong donk dibalikin lagi"

Hiyaaaa... bener-bener gak punya malu. Ini mah sudah jelas banget kalau mereka gak ikhlas, gak lillahita'ala. Kalau ada pileg atau pilkada lagi, trus ada calon yang ngasih duit, saran saya ambil aja tuh uangnya trus bilang "Wah makasih ya...". Jangan lupa di dalam hati berdoa agar Allah memberi hidayah dan ampunanNya. Kemudian pas pencontrengan, jangan sekali-kali pilih calon tersebut.

Haduh...haduh... Mo jadi apa negeri ini...



Wallahu'alam bi shawab.

Monday, April 6, 2009

Kualitas Suara Pemilu

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Masih seputar Pemilu 2009, sebentar lagi Indonesia bakal ngadain hajatan besar pesta demokrasi raya. Tidak ketinggalan KPU di daerah-daerah memberi penyuluhan tentang cara pen-contrengan saat Pemilu nanti, karena model pemilu seperti ini dianggap baru bagi masyarakat Indonesia yang bisa nyoblos, bukan nyontreng. Apalagi buat saya yang belum pernah ikut Pemilu. Pengadaan penyuluhan ini pun sampai ke kampus saya. Penting juga sih, apalagi buat mahasiswa yang first time buat ikut Pemilu. Ternyata eh ternyata, dalam penyuluhan tersebut banyak ide-ide menarik yang disampaikan oleh mahasiswa. Hmmm... lumayan untuk dijadikan ilham...

Oks, ada 2 hal yang lumayan menarik pada acara itu. Yaitu pertanyaan dari Anfal, ketua HMTI (Himpunan Mahasiswa Tenik Industri) dan seorang Mahasiswa Informatika (kayaknya angkatan 2005) yang namanya saya lupa, hehehe...

Anfal bilang (kurang lebihnya begini, maaf klo ada sedikit kreasi dari saya, hehehe....), "Kok kayaknya pihak KPU gak nyampe ke daerah-daerah. Saya gak merasa diapa-apain. Pan saya jadi bingung, saya harus gimana. Soalnya sampai sekarang saya belum masuk DPT. Sebagai orang yang baru pertama kali nyoblos, eh, nyontreng, tentu ini bikin bingung. Masak ntar ga bisa nyontreng. Katanya golput dosa. Saya gak mau donk, masuk neraka gara-gara nama saya gak ada di DPT"

Bener juga, sampai sekarang (saat postingan ini ditulis) saya belum juga masuk DPT. Gimana coba? Eleuh-eleuh.... lieur aing teh... Dan sang penyuluh hanya memberi jawaban klise dan sekedar berapologi. Moga-moga aja yang beliau katakan itu benar... Peace.

Trus, Anfal nanya lagi (lagi-lagi maaf neh klo ada tambahan kreativitas dari saya, hehehe...), "Btw, kenapa sih pake acara ganti cara segala. yang tadinya nyoblos diganti jadi nyontreng? Bukannya lebih susah? Nyoblos mah enak. Tinggal "jleb" selesai. Lah, kalo nyontreng? Aturannya banyak pula. Harus begini, harus begitu, dan beginu (???). Malah ntar kemungkinan salahnya tambah gede. Apalagi surat suaranya, beugh, bisa buat bikin layang-layang gede..."

Hmmm... iya yah. Mengapa, eh mengapa caranya musti diganti ya? Ato KPU lagi cari sensasi biar gak kalah sama selebriti, hehehe... peace bang KPU... Sang penyuluh juga bingung. Gak tau kenapa caranya diganti jadi "nyontreng".

Nah, trus ada mahasiswa yang kebelet nyampein pendapat tentang Pemilu. Dia bilang gini (Again and again, maaf neh klo ada tambahan kreativitas dari saya, hehehe...)"Pan katanya Indonsia itu Demokrasi. Demokrasi itu pan beda dengan komunis. Klo komunis pan lebih menekankan sama rasa sama rata. Semuanya kudu sama. Nah, demokrasi pan gak begitu. Kudu adil sesuai posisinya. Gak asal nyamain. Tapi yang terjadi di Inonesia itu seolah-olah menyamakan. Terutama dalam hal pemungutan suara." Trus dia mulai nyrempet-nyrempet masalah pendidikan. "Nah, kita toh sudah pada tau kalo kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, dan butuh effort lebih untuk mendapatkannya. Termasuk masalah biaya." Kemudian dia mulai menghubungkan, "Nah, masa orang yang sudah berpendidikan suaranya disamakan dengan orang yang, maaf, kurang berpendidikan. Mereka sudah capek-capek sekolah sampai tinggi, toh suaranya sama aja kayak orang yang kagak sekolah. Pan orang berpendidikan mikirnya bisa lebih baik, jadi kualitas suara pun bisa lebih baik." Dia mulai usul, "Gimana klo ada pembobotan suara, yang lulusan SD mungkin bobot suaranya 1, nyang SMP 2, SMA 3, S1 4, dst. Pan lebih adil tuh..."

Hmmm... idenya lumayan. Tapi sayang kurang dapat tanggapan. Ya iyalah, sikonnya gak pas. Jadi tanggapannya ya gak da yang kena. Tapi boleh lah saya coba tanggapi ide itu di blog ini.

We all know that Indonesian has very low education. Padahal, asal tau aja y, Indonesia itu salah satu negara yang siswanya mengenyam jam pelajaran paling panjang di dunia. Beugh.... Nah, gara-gara rendahnya pendidikan masyarakat Indonesia, saya jadi mempertanyakan kualitas suara pada Pemilu Indonesia. Apa iya hasil suara nanti benar-benar hasil analisis dan pemikiran rakyat Indonesia? In other hand, rakyat Indonesia pan masih berendidikan rendah. Mikir dan beranalisis? Lha wong, politik aja kagak ngarti, gimana mau menganalisis. Yah, paling-paling karena edukasinya yang rendah, mereka dimanfaatkan dan diberikan interfensi pemikiran. Pokoknya dukung partai X. Klo ditanya kenapa, "Pokoknya dukung aja, temen-temen juga gituh". Wew, so mereka hampir gak tau visi misi partai dan calon presiden nanti. Ngikut yang rame aja lah.

Nah gimana mo mau maju, milihnya aja asal-asalan. So, mungkin ada benernya juga klo diberi bobot. jadi yang es1, es2, ampe es lilin yang didorong-dorong, yang katanya lebih pinter, bisa lebih memberikan suaranya secara lebih efektif. Gitu kali ya? Tapi ternyata, eh ternyata, masalahnya gak sampe situ. Rendahnya pendidikan tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan, tapi juga kualitas lulusannya. Nah loe. Dah kita liat aja, berapa banyak lulusan S1 dengan gelarnya yang kepalanya kosong gak ada apa-apanya. Mereka hanya nambah angka pengangguran di Indonesia. Apakah orang macam itu juga bisa diajak mikir dan beranalisis tentang masa depan Indonesia? Klo pembobotan diberlakukan, waduh mampus aja deh Indonesia. Ditambah lagi, mekanisme pendataan di Indonesia aja masih semrawut. Contohnya aja berapa banyak orang yang memilik KTP ganda. Ini jelas ngaruh ke data jumlah penduduk kan? Intinya cara kayak gitu belum bisa diterapkan. Perasaan, US aja yg katanya negara paling demokratis gak ada pembobotan macam gitu. (Kan masyarakatnya dah berpendidikan tinggi, O iya ya...)

Yah, itu salah satu masalah kalo putusan ditetapkan dengan suara terbanyak (suaranya rakyat). Kalau daulat ada di tangan rakyat, praktis rakyat punya hak membuat konstitusi. Tapi gak bisa begitu. Hukum berada di tangan Allah Azza Wa Jalla, bukan di tangan siapa-siapa. Jadi sekalipun 90% rakyat milih untuk mengarahkan negeri ini ke jurang kehancuran, maka hak itu tidak akan terjadi. Karena hukumnya dari Allah Azza Wa Jalla. Coba kalo di tangan rakyat. Apalagi yang berpendidikan rendah....

Wallahu'alam bi shawab....

Monday, March 23, 2009

Trend Menjadi Caleg

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Jadi anggota Dewan Legislatif emang enak ya? Koq banyak banget yang pengen jadi anggota Dewan Legislatif. Kayaknya menjadi anggota Dewan Legislatif merupakan trend baru masa kin di Indonesia. Weleh, jangankan politikus, selebritis juga gak mau ketinggalan buat ikut jadi Caleg tahun ini. Anda mau ikutan juga?

Saking maraknya trend menjadi Caleg, sampai-sampai jalan apapun ditempuh juga. Legal - tak legal, halal - haram, babat aja. Yang penting kan jadi, iya kan? Masalah ketahuan, hukuman, ataupun dosa urusan belakangan. Yang penting jadi. Apakah seperti itu pemikiran para Caleg? Who's know?

Menjadi wakil rakyat membuat seseorang memikul amanat yang tak ringan. Wakil rakyat ya artinya wakilnya rakyat, bukan wakil pribadi, keluarga, atau partai. Menjadi wakilnya rakyat berarti menjadi duta rakyat dalam menyampaikan aspirasi rakyat, mendukung kepentingan rakyat, dan bersama pemerintah berusaha sekuat daya upaya untuk mensejahterakan rakyat. Bukan mensejahterakan pribadi, keluarga, partai, atau yang lainnya.

Menjadi wakil rakyat akan memerlukan banyak pengorbanan. Ini bukan tugas main-main, Tugas ngurus rakyat, ngurus perut banyak orang. Menjadi wakil rakyat kudu punya idealisme seorang patriot (bukan Partai Patriot ya, ups...). Jujur, adil, amanah, dan terpercaya. Menjadi wakil rakyat, pasti akan banyak menemui tantangan dan godaan. Yups, butuh butuh kekuatan tersendiri dan pengorbanan. Pengorbanan apa? Apapun. Harta, pikiran, tenaga, atau waktu senang-senang dengan keluarga. So, jadi wakil rakyat bukan urusan enteng. Ini soal dunia akhirat.

Dunia akhirat? Yups...

Abdullah bin Umar r.a. mengabarkan, bahawa Rasulullah saw. bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Kata Abdullah, agaknya Nabi saw. juga bersabda: "Laki-laki itu pemimpin bagi harta-benda ayahnya dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Kamu seluruhnya adalah pemimpin, bertanggungjawab atas kepemimpinannya." [shahih Bukhari]

satu lagi...

Dalam satu kisah Rasulullah saw pernah menolak permintaan Abu Dzar ra yang meminta jabatan. Menurut Rasulullah, "Wahai Abu Dzar ... sesungguhnya Anda ini lemah, sedangkan kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah swt."

Bahkan presiden pertama kita, sang legendaris yang namanya disegani di dunia politik internasional pernah berkata, "Saya mencintai negeri dan keluargaku. Namun bila harus memilih, saya lebih memilih kepentingan rakyat dan negeriku". Nah loe...

Nah, apalagi ini menyangkut amanah. Wew, tanggung jawabnya gak main-main.

Kalau jadi wakil rakyat suatu pekerjaan yang tidak enteng, kok ya banyak yang mau jadi anggota dewan (bahkan jadi presiden)? Logikanya, makin berat suatu pekerjaan tentunya makin dikit donk peminatnya. Bahkan selebritis yang (maaf) pengalaman dalam dunia berpolitik juga diragukan. Apa iya jadi anggota dewan itu enak?

Okelah, dalam sistem negeri ini, Badan Legislatif menjadi salah satu lembaga utama dan tentu memiliki role yang sangat penting. Tapi kok yang ndaftar banyak banget? Laris manis bak kacang goreng (emang kacang goreng laris manis ya? Hmmm...). Kenapa dengan negeri ini. Apakah memang negeri ini sudah dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki high competency dalam hal menjadi penyambung lidah rakyat? Anda yakin dengan itu?

Saking penginnya jadi anggota dewan, jalan apapun ditempuh termasuk memalsukan ijasah seperti yang terjadi di banyak daerah. Apakah itu yang disebut dengan "high competency". Negeriku oh, negeriku...

Saran dalam memilih caleg, pilihlah caleg yang takut pada Allah SWT. Caranya terserah Anda... :D

---

OOT neh, btw, demokrasikah jalan terbaik? Bukankah Allah SWT telah memberikan suatu bentuk sistem pemerintahan yang mana telah dicontohkan Rasulullah? Dan tentu meng-include masalah hubungan muslim dan non musim yang adil. Apakah kita merasa pemikiran kita tentang sistem pemerintahan jauh lebih baik dari yang dimiliki Allah SWT? Hmmm... keknya masalah ini tetep hot untuk dijadikan bahan diskusi...

---

Wallahu'alam...



Friday, March 20, 2009

BLT Menjelang Pemilu 2009

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Pembagian BLT menjelang Pemilu? Ada apa ini? Bukankah hal ini menjadi indikasi adanya money politik? Kata Pak JK sih gak ada kaitannya sama Pemilu 2009, soalnya ada masalah teknis sehingga BLT baru cair sekarang. Benarkah demikian?

Nah, kalau menurut saya sih mendingan dilakukan pemilu dulu ketimbang BLT dulu. Soalnya ini bisa mengundang "fitnah" di dalam negeri. Bagaimana tidak, orang lagi pada rame kampanye, eh Presiden (yang juga mau nyalon lagi) mencairkan dana BLT. Pas rame-rame pemilu, eh ada orang bagi-bagi duit. Ya orang mikir "wah ada apa ini? Money politik ini...".

Ngomong-ngomong BLT, kata pemerintah sih BLT merupakan salah satu program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan. Benar begitu. Ada orang miskin yang belum bisa mandiri, di kasih uaang tunai. Apa iya hal ini bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Koq jadi kaya pengemis gitu ya? Kata orang jawa "mara'ke wong dadi males" (ngajari orang jadi malas).

Sebenernya Rasulullah SAW sudah memberikan contoh bagaimana menolong orang yang belum mandiri dalam mencari penghasilan (baca: uang/harta). Mungkin teman-teman sudah pernah dengar kisah tersebut. Tapi okelah biar saya ceritain lagi. Tapi ringkas aja ya...

Pada suatu saat Rasulullah bertemu dengan seorang pengemis. Beliau tidak memberinya uang, dan beliau bertanya, "Apa yang kau miliki di rumahmu?". Pengemis itu menjawab, "Sehelai kain yang sudah kupotong dua. Sepotong untuk pakaian dan sepotong untuk alas duduk. Dan ada lagi sebuah piala tempat minum." Rasulullah kembali berkata "Pulanglah, dan bawa barang-barangmu kemari".

Sesaat kemudian, pengemis itu kembali mendatangi Rasulullah bersama barang-barangnya. Rasulullah berkata "Siapa yang mau membeli barang ini?". "Saya ya Rasullah, saya akan membelinya seharga satu dirham" kata seorang sahabat. Rasulullah kembali bertanya "Adakah yang mau membeli dengan harga lebih". “Biarlah saya yang membayar 2 dirham”jawab seorang sahabat yang lain. Dan akhirnya, barang-barang tersebut terjual dengan harga dua dirham. Rasulullah memberikan uang pembayaran kepada pemilik barang itu, sambil berkata, “Nah, ambillah uang ini. Satu dirham, belikan makanan untuk anak-anak isterimu. Sisanya berikanlah sebuah kapak! Sesudah itu kembalikanlah kemari”.

Kemudian pengemis tersebut kembali menghadap Rasulullah. Rasulullah berkata "Pergilah kamu dan carilah kayu bakar dan jual ke pasar. Aku tak ingin melihatmu dalam 15 hari". Pengemis itu menurut.


Lima belas hari kemudian, dia datang lagi ke rumah Rasulullah dengan wajah berseri-seri. Diceritakannya bahwa selam 15 hari mencari kayu bakar, dia sudah mendapat nafkah sebanyak 15 dirham. Uangnya telah dibelanjakan untuk makanan dan pakaian anak-isterinya. Rasulullah tersenyum gembira. “Itu lebih baik bagimu, dari pada meminta-minta! Sebab kebiasaan meminta-minta itu membuat mukamu menjadi cacat hitam di hari kiamat…” kata Rasulullah sambil menepuk bahu orang itu.

Begitulah Rasullah mengajarkan seseorang menjadi mandiri dalam mencari nafkah. Bukan memberi uang, tapi memberikan ketrampilan. dalam hadits diriwayatkan:

Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya seseorang terus meminta-minta hingga ia akan datang nanti pada hari Kiamat tanpa ada sepotong daging pun di wajahnya'," (HR Bukhari [1474] dan Muslim [1040]).

Dari Mu'awiyah r.a, ia berkata, Rasululullah saw. bersabda, "Janganlah banyak meminta-minta, demi Allah tidaklah seseorang meminta sesuatu kepadaku lalu permintaannya itu aku penuhi sementara aku tidak rela memberikannya melainkan apa yang aku berikan itu tidak akan ada berkah baginya," (HR Muslim [1038]).

Rasulullah memberi ketauladanan dalam memberi pengajaran terhadap orang miskin. Memeperlakukan orang miskin dengan tepat, karena setiap orang pasti memiliki suatu yang berharga. Apapun itu. Rasulullah tidak memperlakukannya seperti pengemis. Negeri kita? Anda simpulkan sendiri...